Welcome to our website !

Berita Islam Terkini

Salafiyah adalah dari bahasa Arab, Salafa, atau taqaddama wa sabaqa   تقدم و سبق
(terdahulu). Di dalam Lisanul ‘Arab, lafal As-Salaf itu artinya: Golongan terdahulu... di dalam perjalanan hidup... atau dalam umur, atau dalam keutamaan, atau (terdahulu) dalam kematiannya. As-salaf juga berarti perbuatan terdahulu dari manusia.

    Menurut istilah, pengertian Salafiyah adalah (faham yang) memegangi Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber awal bagi ilmu dan amal, dan berpegang pada pemahaman sahabat Nabi saw mengenai isi dua sumber itu, khususnya dalam masalah aqidah. Adapun dalam segi penerapan, maka perjuangan kelompok Salafiyah yang baru kadang terfokus pada perlawanan terhadap fanatisme madzhab, dan menyerukan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.... 

   Pengertian tentang Salafiyah secara singkat bisa kita simak sebagai berikut:   
   Salafiyah adalah gerakan yang berusaha menghidupkan ajaran kaum Salaf (Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’ien, pen) bertujuan agar umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan hadits serta meninggalkan pendapat ulama madzhab yang tidak berdasar dan segala bid’ah yang tersisip di dalamnya. Gerakan ini dicetuskan oleh Ibnu Taimiyah (661-728H/ 1263-1328M). 

    Pengertian Salafiyah itu secara gamblang disebutkan oleh seorang penulis abad ini, Muhammad Abdul Hadi Al-Mishri, yang mengaku sengaja menulis buku untuk mendudukkan Manhaj dan Aqidah Salaf. Dia kemukakan, Salaf ialah istilah yang diperuntukkan bagi Imam-imam terdahulu dari tiga generasi pertama yang diberkahi Allah, yaitu generasi Sahabat, Tabi’in, Tabi’it Tabi’in. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
خير القرون قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم، ثم يجيء أقوام تسبق شهادة أحدهم يمينه، ويمينه شهادته.

   “Sebaik-baik generasi ialah generasiku, kemudian orang-orang sesudahnya, kemudian orang sesudahnya (lagi). Lalu akan datang orang-orang yang kesaksiannya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.” (HR Al-Bukhari).
 
    Karena itu, setiap orang yang beriltizam kepada aqidah, fiqh, dan ushul (ad-dien, pen) Imam-imam, ia dapat dinisbatkan kepada mereka (salaf) meskipun tempat dan jamannya berjauhan. Dan setiap orang yang menyalahi mereka –sekalipun ia hidup di tengah-tengah mereka, bahkan berkumpul dalam satu tempat dan satu masa—ia tidak termasuk golongan mereka. 

    Ada pula yang memaknakan bahwa Salaf itu bukanlah suatu gerakan ataupun aliran, namun hanya sebagai manhaj (jalan, methode atau sistem pemahaman).  Prof Dr Abu Bakar Atjeh mengemukakan, Mahmud Al-Bisybisyi dalam kitabnya Al-Firaqul Islamiyyah (Mesir 1932) menerangkan bahwa yang dimaksudkan dengan Salaf ialah Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in, dapat diketahui dari sikapnya menampik penafsiran yang mendalam mengenai sifat-sifat Allah, yang menyerupai segala sesuatu yang baharu, untuk membersihkannya dan mengagungkannya. Sedang yang termasuk Khalaf adalah ulama-ulama di belakang itu, yang memberi ta’wil kepada sifat-sifat Tuhan yang serupa dengan yang baharu, kepada pengertian yang sesuai dengan ketinggiannya dan kemurniannya.

   Jadi yang sebenarnya dinamakan Ahlus Salaf itu tidaklah merupakan  sesuatu madzhab yang tertentu, tetapi ulama-ulama yang mempunyai sifat-sifat tertentu. Sejarah tidak menunjukkan bilamana istilah “Ahlus Salaf” mulai dipergunakan dan juga tidak menyebutkan bagaimana corak alirannya

    Meskipun demikian, bisa diperoleh keterangan-keterangan yang menunjukkan bahwa faham Salaf itu adalah yang merujuk kepada pemahaman tiga generasi awal Islam yang disebut oleh Nabi saw sebagai generasi terbaik, yaitu generasi masa Nabi (yakni Sahabat), kemudian setelahnya (Tabi’in), kemudian setelahnya (Tabi’it Tabi’in).


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Julukan Kiyai untuk Ulama Perlu Dihapus
    Julukan atau sebutan Kiyai atau Kiai atau Kiyahi (
كياهي)  ) sering menjadi pertanyaan orang. Apa sebenarnya makna Kiyai itu. Dari mana asal muasal nama Kiyai itu. Dan apa sebenarnya ciri-ciri serta hal-hal yang harus dilakukan oleh para Kiyai.
   Pertanyaan itu lebih mencuat lagi ketika orang-orang yang disebut Kiyai atau para Kiyai ada yang dinilai berbuat yang di luar jalur kebiasaan, misalnya ada yang  patut diduga sebagai provokator, ada yang jadi pengipas-ngipas suasana dengan memanasi anak buah untuk melawan terhadap lawan-lawan politik, ada yang memanas-manasi untuk mendukung Presiden Gus Dur / Abdurrahman Wahid karena presidennya dari golongan sang Kiyai itu, yaitu Nahdlatul Ulama dengan partainya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Tidak jarang pula ada Kiyai yang suka kumpul-kumpul sesamanya, hingga disebut Kiyai khos (khusus) yang kaitannya erat dengan soal dukung mendukung terhadap kursi presiden yang sedang diduduki oleh golongannya.

    Tetapi di balik itu ada Kiyai dogdeng (kebal) yang suka sesumbar bahwa wadyabalanya rata-rata jadug (sakti, tidak mempan senjata tajam). Ada juga Kiyai yang dari zaman Orde Baru pimpinan Presiden Soehartosukanya mendekat-dekat dengan penguasa, bahkan pernah bersama-sama puluhan Kiyai dipimpin Nur Iskandar SQ menghadiahi emas beberapa kilogram kepada Presiden Soeharto dengan dalih untuk mengatasi krisis ekonomi/ moneter. Setelah para Kiyai itu sowan (hadir dengan penuh ketundukan) ke tempat Presiden Soeharto, justru tak lama kemudian sang Presiden dipaksa turun dengan didemonstrasi oleh puluhan ribu mahasiswa selama dua minggu, hingga ia menyatakan turun dari kursi kepresidenan 1998. 

   Ada juga Kiyai yang mempelopori untuk disahkannya asas tunggal pancasila hingga kumpulan para Kiyai itu berbangga diri bahwa pihak mereka dengan Jam’iyah NU-nya adalah orang-orang yang nomor satu dalam hal menggulkan (mensukseskan untuk dipaksakannya) asas tunggal pancasila terhadap Ummat Islam. Padahal, Ummat Islam pada umumnya sangat kesulitan menghadapi tekanan Soeharto yang semakin terasa berpihak kepada palangis atau kaum Salib yang makin menjadi tirani minoritas dengan pengaruh Jendral Leonardo Benny Murdani saat itu dan menekan Islam selama hampir 30-an tahun. Sedang asas tunggal pancasila itu dinilai oleh kalangan Islam non NU dan Golkar sebagai salah satu jenis tekanan Soeharto terhadap Islam.  Kiyai-Kiyai NU yang menggulkan asas tunggal pancasila itu di antaranya dipimpin Kiyai Haji Ahmad Siddiq (mendiang yang dulunya suka musik rock barat, satu kebiasaan yang jauh dari adab orang alim Islam, yang kitab-kitabnya menyebut sankres alias musik itu haram). Kemudian “jasanya” itu dibawa mati. 

Dan mereka yang masih hidup, mereka tidak merasa malu apalagi minta maaf kepada umat ketika Umat Islam bersyukur dan  merasa lega saat asas tunggal pancasila itu ditendang oleh MPR dalam sidangnya 1998, setelah pemerintahan Soeharto jatuh, dan pemerintahan diserahkan kepada wakilnya, Prof Ir Baharuddin Jusuf Habibie. Sikap para Kiyai itu kalau diperbandingkan, masih agak mending Amien Rais (Ketua MPR) yang walaupun tanpa menyandang gelar Kiyai namun secara jantan dia meminta maaf kepada bangsa Indonesia atas “ijtihad politiknya” (menurut istilah dia) yang salah ketika dulunya memprakarsai untuk memilih Gus Dur/ Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden yang ternyata setelah dijalani, kepemimpinan Gus Dur menurut Amien Rais menyebabkan Amien minta maaf kepada bangsa atas salah pilihnya itu. Hingga Amien Rais pun tampak bertanggung jawab terhadap bangsa Indonesia untuk berupaya bagaimana agar Gus Dur turun dari jabatan presiden. Sekalipun sikap Amien Rais itu jelas sikap politik, namun di situ tampak terus terang mengaku bahkan minta maaf atas kesalahannya, dan pula mau berusaha untuk menambal kesalahannya. 

(Dalam hal ini para pembaca tidak usah buru-buru menyangka bahwa penulis pro Amien Rais, hingga membela-bela dia. Tidak. Karena, buku yang mengkritik Amien Rais berjudul Kekeliruan Logika Amien Rais pun telah penulis ujudkan dan cetak serta edarkan sebelum kami tulis buku Bahaya Pemikiran Gus Dur. Jadi tidak ada itu membela-bela Amien Rais segala.  Kepentingan menampilkan sikap Amien Rais itu hanya untuk perbandingan antara sikap para Kiyai NU pendukung asas tunggal pancasila yang sampai dikenal sebagai nomor wahid, yang kemudian tidak mau mengakui kesalahan apalagi minta maaf, dan sikap Amien Rais yang terang-terangan secara jantan mengakui kesalahan dan minta maaf  kepada bangsa Indonesia dalam kasus keterlanjurannya menjagokan Gus Dur sebagai presiden. Padahal resikonya jauh lebih berat bagi Amien Rais, sampai-sampai dihalalkan darahnya oleh Nur Iskandar SQ dan sering diboikot di Jawa Timur. Sementara itu, seandainya para Kiyai NU meminta maaf atas kengototannya menjadi pendukung pertama dipaksakannya asas tunggal pancasila, sebenarnya tidak ada resiko apa-apa, toh orang yang dijilati yaitu Presiden Soeharto sudah tidak berkuasa lagi. Itu saja persoalannya. Tapi Pak Amien Rais tidak usah bangga dengan perbandingan ini).

Kunjungi juga:


PENYINGKAP KATA
Aku ini tak muda lagi. Umurku telah 51 tahun. Tak akan aku menyia-nyiakan hidupku yang tinggal sedikit waktu lagi. Manakah yang lebih menyenangkan, ketentraman hidupku di samping keluarga yang membahagiakan diriku atau menerima kehadiran suatu Takdir yang akan membenamkan aku dalam hiruk-pikuk tudingan dan hujatan. Adakah pilihan bagiku kalau Takdir ini adalah kehendak Allah? Bunga yang indah, ketentraman yang membahagiakan, mungkin harus kulupakan. Takdir ini lebih penting dari apa pun.
Kehidupanku dulu tak berjalan di jalan yang terjal. Allah banyak memberiku kebahagiaan. Dan Allah telah menempatkanku sebagai wanita karir yang sibuk dan mengalir. Kehidupanku bersama bunga mengalir bersama keindahannya. Di manakah pesona yang bisa melebihi keindahan bunga? Cinta!
Malaikat Jibril mulai menyapa ketika aku sedang menikmati pesona dunia karirku. Nama Jibril Alaihissalam tak terukur mulianya bagiku. Pengorbanan apa pun dariku tak akan pernah dapat mengimbangi keberkahan Allah yang dibawanya. Malaikat Jibril berjanji mengajariku menempuh kelangsungan kehidupanku bersamanya. Aku harus berjuang menyesuaikan diri.
Siapa yang tak mengenal Jibril? Tanganku terlalu lemah membawa namanya. Kalau hanya disuruh membawa senyumannya, itu pun tak mampu aku bawakan. Radiasi nuklir, ozon, satelit, galaksi, dan apa pun namanya, semua kata-kata itu baru saja menempel ketika aku menuliskan buku ini.
Di zaman teknologi canggih ini aku memang terpaut sangat jauh. Bagaimana pula penunggangan masalah di atas masalah? Tak terbatas masalah-masalah umat manusia terkini. Berapa banyak sih masalah di dunia ini dan kalau umat manusia mengetahui Jibril bersamaku, tak dapat kubayangkan bagaimana aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menginginkan jawaban Jibril. Kesempurnaan jawaban tentulah sangat diharapkan dariku.
Bagaimana aku meniti masa depanku itu? La haula wala quwwata illa billah. Tak terjamah, tak terlihat, tapi aku telah mengakui dia telah bersamaku. Mana yang harus dijaminkan bila jawaban yang diharapkan tak dapat kujabarkan dengan baik atau kemungkinan salah karena keterbatasan pengetahuan dan ketidaksempurnaanku untuk mengadaptasikan isyarat bahasanya? Sedangkan aku tak dimungkinkan lagi memiliki kesempatan untuk belajar.
Bahasa Jibril bahasa kalbu. Apabila tak kupahami jawabannya, alangkah memerlukan waktu yang lama untuk mengeja kata-kata itu. Semoga Allah melapangkan nalarku agar aku dapat melaksanakan tugas-tugas itu. Nama Jibril sangat dekat dengan Allah. Ketika namanya kusebut, semua orang memastikan aku telah bersama dengan seluruh kemampuannya. Bahkan nyawaku ini bagaikan sebutir pasir di tengah keleluasaan alam. Itulah perbandingan kemampuanku dengan kemampuannya.
Bagaimana aku bisa menerjemahkan kemampuannya? Kelak Anda akan tahu bahwa aku ini dilahirkan dengan kemampuan yang sangat terbatas. Tak ada pilihan lagi bagiku. Berapakah yang mampu kuserap dan kemudian dapat kunyatakan dari seluruh kemampuan Jibril, aku tak dapat menjamin diri. Bayangan keterbatasan kemampuanku dan bayangan kedahsyatan Jibril, tak terhingga kesenjangan itu.
Manakah yang harus kudahulukan untuk mempelajarinya, sedangkan masalah itu meliputi seluruh masalah kehidupan? Segala perbaikan niscaya akan ditanyakan orang kepadaku. Dari manakah aku dapat mengutip ilmu, agar aku dapat menjawab mereka? Sungguh bayangan ini sangat menakutkanku.
Wahai teman, wahai Anda semua, temanilah aku menapak di dalam Takdir ini. Dan temanilah aku untuk mempelajarinya. Aku tak hanya membawa senyuman Jibril. Dia bersama segala kemampuannya. Tolonglah aku, wahai Jibril. Ajarkan aku bagaimana menyampaikan itu semua.
Jakarta, 30 Juni 1998
Lia Aminuddin


Sebuah Takdir Menjelang Kiamat
Bagaimanakah kiamat itu? Sudah dekatkah kiamat? Berapa lama lagikah datangnya kiamat? Dan darimanakah kiamat itu datangnya?
Telah diberitahukan bahwa kiamat itu adalah ketentuan Allah. Namun ternyata itu semua terpulang kembali kepada pernyataan-pernyataan dan penundaan umat manusia menyadari perusakan-perusakan yang terus terjadi, baik yang diakibatkan oleh kelalaian maupun oleh keserakahan dan perbuatan dosa.
Umat manusia adalah makhluk yang dikaruniai Allah akal pikiran, akan tetapi memiliki hawa nafsu. Dari hawa nafsu dan ketinggian akalnya, kini manusia telah sampai pada masa penjenuhan rasionya. Umat manusia telah sampai pada titik balik keunggulan sains. Seluruh penemuan-penemuan software dan hardware yang meliputi produk-produk penyempurnaan otomotif, tele audio-visual, transformasi komunikasi, peroketan dan peluru kendali, bioteknologi, dan sejumlah komoditas produk niaga (seluruh produk-produk konsumtif) berjalan tak seimbang dengan penjagaan lingkungan hidup.
Menilai kelangsungan hidup umat manusia, adakah kini kita tak sedang menyaksikan sebuah fakta penunggangan balik teknologi? Adakah kita ini kini tak sedang dijajah oleh hasil penemuan umat manusia sendiri? Ketergantungan umat manusia terhadap produk-produk teknologi canggih itu telah menjadikan kita semua terpaku dengan kemudahan-kemudahan yang dihasilkannya. Lama kelamaan tak dimungkinkan lagi bagi umat manusia untuk tampil seadanya. Nyaris pengaruh laju perkembangan iptek ini telah menghabiskan cadangan bahan bakar dan oksigen alam.
Bagaimanakah sebenarnya perjalanan kehidupan umat manusia beserta buminya ini untuk masa-masa selanjutnya?
Mungkin kita perlu merenungi masalah-masalah yang sedang kita hadapi. Sangat banyak persoalan-persoalan pelik yang masih tertunda karena kita tak berkemampuan menguraikannya. Di antara dilema-dilema dan simpul-simpul kerumitan dan tegangan bayangan neraka dunia, tiba- tiba aku menyeruak dengan menyodorkan sesuatu, yang Allahu Akbar betapa musykilnya kejadian itu.
Maukah Anda menahan sabar bila aku menyampaikan di sini bahwa panduan tentang peristiwa kiamat itu kuperoleh dari Malaikat Jibril Alaihissalam? Namanya tak terukur mulianya. Tak terukur kegenapannya. Kalau ada semisal yang dapat kuajukan tanpa harus melibatkan namanya, maulah aku memakainya. Siapa yang tak takut mengatasnamakan dirinya. Tak terhingga tanggapan yang akan kuterima nanti. Tanggapan itu bisa berupa berita yang positif maupun negatif. Tanggapan berupa makalah, hujatan, kemarahan, kompromi, toleransi, dan simpati, semuanya bercampur- aduk.
Tak ada kekurangan sedikit pun pada dirinya. Kecerdasannya terunggul. Setiap masalah terurai olehnya. Manakah yang lebih membuatku takut? Adakah menyampaikan penjelasan- penjelasannya guna memperbaiki segala keadaan atau mati karena dituduh sesat atau pembohong, hidup sengsara (tanpa pengecualian kita semua akan hidup sengsara) atau kecewa dan menderita karena SARA? Adakah pilihan bagiku untuk dapat menghindar dari semua kenyataan itu? Tak satu pun yang dapat kuhindari.
Dari semua pertimbangan itu, adakah kemungkinan jalan lain bagiku yang lebih aman? Hanya ada satu, yaitu mendiamkan Takdir ini. Adalah lebih baik mendiamkannya saja. Hidup tak nyaman karena bencana-bencana cukuplah kuhadapi dengan mengusahakan sebaik-baiknya meniti hidup ini dengan selamat. Cukuplah aku dan keluargaku menyesuaikan diri dengan segala perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Itulah sebaik-baiknya pilihan. Kadar keimanan itu setidaknya dapat menyelamatkan diriku sendiri beserta keluargaku.
Mau apa lagikah sebenarnya aku ini sehingga pada akhirnya aku berkeputusan menerbitkan buku ini? Hanya satu alasanku, aku tak berani tak menjawab sodoran Takdir ini. Manakala akhir konklusiku itu adalah menjadi jamaahnya Malaikat Jibril, katakanlah saja aku menyediakan diriku menjadi pembantunya.
Maka mohon janganlah menganggapku sedang mencari predikat atau ingin mendirikan partai baru, apalagi hanya untuk menyunting jabatan. Lillahi Taala, aku hanya ingin menyampaikan amanah. Pesona Jibril terpancar melalui kitab suci Allah. Bagaimanapun dia kunyatakan telah datang kembali. Berbilang tandanya, berbilang penjelasan-penjelasannya, namun tak berbilang kemanfaatan-kemanfaatan yang dibawanya. Dapatkah dia dimungkinkan datang kembali? Berikut penjelasan-penjelasan itu darinya.
Adakah Dimungkinkan Malaikat Jibril Alaihissalam Datang Lagi?
Beberapa ayat ditampakkannya kepadaku, agar aku mendapat keyakinan dimungkinkannya Jibril Alaihissalam itu datang lagi ke bumi. Ayat-ayat itu antara lain:
1. QS. Al Mukmin:15
Yang artinya: (Dialah) Tuhan yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).
2. QS. An Nahl:2
Yang artinya: Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku".
3. QS. Al Isra:95
Yang artinya: Katakanlah: "Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul".
4. QS. Maryam:64
Yang artinya: Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya- lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.
Ayat-ayat itu telah menyatakan bahwa adalah dimungkinkan seorang malaikat yaitu malaikat Jibril datang lagi dan tampil menjadi Rasul dan diperkenankan Allah berjalan-jalan di muka bumi. Melalui ayat-ayat tersebut dapat dikemukakan sebagai pembuka bagi pendapat orang- orang yang menyatakan tak dimungkinkannya Malaikat Jibril turun kembali.
Kedatangannya kembali di akhir zaman ini sesungguhnya bukanlah demi penyempurnaan Al-Quran, bukan pula menginginkan mempertemukan Al-Quran dan Injil, bahkan sangat tak dimungkinkan dia turun untuk memperbaharui ajaran-ajaran Allah. Kedua kitab suci Allah, Al-Quran dan Injil, sejak disampaikan kepada Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, telah disatukan dan Al-Quran pun telah dinyatakan sempurna.
Berupa apakah amanah-amanah yang dibawanya? Dia pun menjelaskan bahwa amanah- amanah itu adalah untuk menyampaikan peringatan-peringatan Allah, menyambungkan pembaiatan Nabi Isa, menyuarakan kebenaran agama Islam, mengajarkan keadilan dan menjernihkan iman, akhlak, tauhid umat manusia, serta menyeru umat manusia bersyahadat dan salat serta memurnikan ajaran agama Allah (Islam dan Nasrani) dan menyampaikan berita kiamat.
Sesungguhnya telah dibacakannya kepadaku surah-surah yang berkaitan dengan amanah yang dibawanya tentang kiamat, yaitu surah Al Qiyaamah dan surah Al Qamar. Kedua surah tersebut telah mencerminkan kiamat dan tanda-tandanya, dan kami dibawanya menyaksikan tanda-tanda itu.
Surah Al Qiyaamah
  1. Allah bersumpah dengan hari kiamat,
  2. dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).
  3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
  4. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (jari jemarinya) dengan sempurna.
  5. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
  6. Ia bertanya: "Bilakah hari kiamat itu?"
  7. Maka apabila mata terbelalak (ketakutan)
  8. dan apabila bulan telah hilang cahayanya,
  9. dan matahari dan bulan dikumpulkan,
  10. pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat lari?"
  11. sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!
  12. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
  13. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
  14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,
  15. Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
  16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
  17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
  18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
  19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
  20. Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
  21. dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.
  22. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
  23. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
  24. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,
  25. mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.
  26. Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,
  27. dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan?",
  28. dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),
  29. dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan),
  30. kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.
  31. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Quran) dan tidak mau mengerjakan salat,
  32. tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran),
  33. kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong).
  34. Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,
  35. kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.
  36. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)
  37. Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),
  38. kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,
  39. lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.
  40. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
Surah Al Qamar
  1. Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.
  2. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus".
  3. Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.
  4. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran),
  5. Itulah suatu hikmat yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka)
  6. Maka berpalinglah kamu dari mereka (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan),
  7. Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.
  8. mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata: "Ini adalah hari yang berat".
  9. Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: "Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman".
  10. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: "bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)".
  11. Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.
  12. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.
  13. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,
  14. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).
  15. Dan sesungguhnya telah kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
  16. Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
  17. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
  18. Kaum Aad pun telah mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman- ancaman-Ku.
  19. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus,
  20. yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang.
  21. Maka betapakah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
  22. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
  23. Kaum Tsamud pun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu).
  24. Maka mereka berkata: "Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila",
  25. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong".
  26. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.
  27. Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah.
  28. Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran).
  29. Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya.
  30. Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
  31. Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.
  32. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
  33. Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya).
  34. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing,
  35. sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
  36. Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.
  37. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
  38. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.
  39. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
  40. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
  41. Dan sesungguhnya telah datang kepada kaum Fir'aun ancaman-ancaman.
  42. Mereka mendustakan mukjizat-mukjizat Kami semuanya, lalu Kami azab mereka sebagai azab dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.
  43. Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu?
  44. Atau apakah mengatakan: "Kami adalah satu golongan yang bersatu pasti menang".
  45. Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.
  46. Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.
  47. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.
  48. (Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): "Rasakanlah sentuhan api neraka".
  49. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
  50. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.
  51. Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
  52. Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.
  53. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.
  54. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai,
  55. di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.
Kedua surah itu telah melukiskan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi pada saat ini. Pertemuan bulan dan matahari yang dimaksudkan itu ternyata adalah penyempitan waktu, disebabkan bulan dan matahari telah berdekatan dan yang kemudian berakibat terjadinya bencana-bencana dan malapetaka seperti pemanasan global yang mengakibatkan kemarau, keretakan bumi, dan yang menyebabkan banjir badai, petir yang menggelegar.
Kebocoran lapisan ozon yang menyebabkan penderitaan-penderitaan umat manusia oleh kuman dan belalang, sesungguhnya di dalam kedua surah itu pun telah dilukiskan. Keadaan kaum Luth, Nuh, Aad, dan Tsamud diumpamakannya kehidupan mereka itu sebagai peringatan. Tanpa turun tangan Allah, segala penderitaan dan kesulitan umat manusia pada saat ini tak dapat diuraikan. Bagaimana sebenarnya peringatan-peringatan itu disampaikan? Berikut ini penjelasan- penjelasan dan kesaksian-kesaksian yang telah kami dapatkan.
Melalui isyarat kalbu yang disampaikannya kepadaku, implikasi pernyataan- pernyataannya dapat juga diterima oleh semua orang yang bersedia menyertai Takdir ini, yaitu saat ini adalah jamaah Salamullah. Kekasyafan dibaiatkan kepada siapa-siapa yang telah dinyatakan bersungguh-sungguh menyertai Takdir ini. Jamaah Salamullah secara langsung akan menerima petunjuk-petunjuk darinya. Melalui isyarat kalbu, Malaikat Jibril menyatukan kami menjalankan tugas-tugas yang dibimbingkan olehnya.
Instruksi, nasehat, dan pencegahan-pencegahan dinyatakan langsung kepada kami melalui sistem komunikasi searah maupun timbal balik. Sedangkan aku akan menjelaskan apa-apa yang masih belum jelas bagi mereka (jamaah Salamullah). Kadangkala kami pun secara spontan terlibat secara langsung menyuarakan ucapan-ucapannya. Cukuplah mengikuti apa-apa yang dibayangkan di hati kami sehingga kami hanya melapangkannya dengan kata-kata dalam bahasa kami sendiri.
Setiap kali dia menyampaikan penjelasan, nasehat-nasehat, dan petunjuk-petunjuknya, siapa saja yang berada di sekitar kami pada waktu itu mencatat kejadian dan topik bahasan dan penguraian-penguraiannya. Seluruh catatan itu dituangkan dalam suatu pendokumentasian yang harus disesuaikan dengan percepatan penguraiannya. Kami telah terbirit-birit mendokumentasikan setiap uraiannya.
Setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya selalu akan menerima jawaban yang luas, jelas, dan tuntas. Sedangkan pada kami sungguh banyak masalah yang ingin ditanyakan kepadanya, mulai urusan yang menyangkut keadaan bangsa, segala situasi dan pendalaman spiritual dan tauhid, sampai kepada hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari kami. Belum lagi perihal pengobatan spiritual dan masalah-masalah kegaiban, termasuk di dalamnya kriminalitas metafisis.
Seluruh penjelasan itu kami simpan dalam file dokumentasi. Pada kenyataannya tulisan- tulisan itu menjadi bacaan yang mengasyikkan bagi jamaah Salamullah. Lemari Dokumentasi dibaiatkan Jibril Alaihissalam menjadi tanggung jawab Landung Wahana.
Berapakah sebenarnya batas kemampuan menyerap bahasa isyarat kalbu darinya? Bagiku, terpulang kepada batasan pengetahuanku. Apa-apa yang tak kuketahui, maka lebih dulu aku harus menyempatkan mengamati dan mempelajari perihal tersebut demi meringankan dan pemusatan daya konsentrasi. Akan tetapi proses pemahaman tentang hal itu tak memerlukan pendalaman yang tuntas. Cukuplah aku hanya mengenali obyek dan permasalahannya serta sebagian penjelasan-penjelasan yang melatarbelakangi keadaan obyek itu.
Beberapa kali aku terbentur kepada hal-hal yang sulit terjangkau disebabkan keterbatasan pengetahuanku serta daya nalarku. Sedangkan aku tak mungkin memahami hal itu dengan penjabaran yang mudah dan disederhanakan karena obyek pembahasan itu menyangkut perihal yang pelik dan terpaut kepada kaidah-kaidah keilmuan yang tak kumengerti. Sedangkan aku tak dimungkinkan memahaminya karena keterbatasan pendidikanku yang sempat kuperoleh. Kesenjanganku terhadap kemakrifatan berbagai disiplin ilmu itu dijembatani olehnya dengan mengutarakan melalui obyek-obyek atau cara penalaran yang dapat terjangkau olehku.
Sebagaimana ketika dia menjelaskan proses pengenalanku terhadap alam semesta dan ketika terjadinya proses perubahan tata letak planet-planet di tata surya, dipertemukannya aku dengan benda-benda itu melalui komunikasi transendental sehingga memungkinkan aku menjabarkan dengan kata-kata dan bahasaku sendiri. Tak diberikannya istilah-istilah ilmiahnya, dinyatakannya sebagai upaya yang harus kulakukan sendiri demi penajaman reaksi nalarku.
Bahkan seringkali ditangguhkannya sebuah penjelasan sehingga aku sendirilah pada akhirnya dapat menemukan panduannya atau kesimpulan sistemnya. Jenjang itu setiap hari ditambahkan bebannya sehingga aku seakan-akan berlari-lari menjemput segala pelajaran- pelajaran yang dicurahkan olehnya.
Seandainya Anda tahu modal pengetahuanku, tentu Anda akan berbelaskasihan melihatku tertatih-tatih menerjemahkan penjelasannya demi transformasi dan format yang diinginkannya untuk buku ini.
Sesungguhnya dari segala mata pelajaran yang diajarkan kepada kami tak ada bilangan pembatasan. Segala hal yang diajukan kepadanya niscaya dapat diterangkannya dengan jelas. Sayangnya tak selamanya aku dapat menangkap rincian penjelasannya terutama kalau tak kupahami obyek yang ingin dibahaskan.
Seluruh pertanyaan itu terpaksa kudaur ulang dengan mereka-reka peringkat jabarannya dan pembedahan kasus-kasus serta selisih masalah yang dipertanyakan sehingga aku dapat menangkap isyarat atau kesimpulan jawaban yang diberikannya. Tandanya isyarat itu telah bersambungan dengan jawaban aku sendiri, maka di dalam hatiku terasa ada detakan yang kuat memberikan sinyal pembenaran jawabanku itu. Demikianlah sistem komunikasiku dengan Malaikat Jibril. Terlalu banyak kesenjangan yang harus kulalui dan tentu saja aku tak dimungkinkan menghindari permasalahan atau pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Demi menyambungkan komunikasi itu aku tak ingin berpangku tangan menerima keadaanku ini. Aku ingin mempelajari ilmu apa saja agar Allah memberikanku kemudahan membantu Malaikat Jibril melancarkan amanah-amanah yang dibawanya. Penjelasanku itu sangat berbeda dengan penjelasan Jibril. Itulah mungkin yang akan menjadikan ciri khas perbedaan antara aku dan dia agar kehadiran Jibril pada diriku ini terlihat lebih jelas. Sungguh ketentuan Allah ini dapat bermakna: "Tak pandai tapi dapat menyambungkan kepandaian".
Salahkah kalau tiba-tiba aku tak menemukan jawaban? Padahal Jibril pasti dapat menjawabnya. Inilah kesenjangan yang sangat aku khawatirkan akan menjadi sorotan dan hujatan. Terhadap jawaban-jawaban yang tak kukenali, dapatkah aku diberikan waktu untuk mencernanya, baik tentang obyek pertanyaan itu maupun penguraian Jibril Alaihissalam? Dan berilah aku waktu untuk mempelajarinya bilamana aku sedang sulit menyimpulkannya.
"Buktikan! Buktikan bahwa Jibril bersamamu! " Kata-kata itu dapat mencekamku ketika aku berada dalam situasi keterdesakan. Maka di dalam ketercekaman aku semakin sulit mendengar isyarat kalbu. Sudilah kiranya Anda tak mendesakkan kepadaku hal yang demikian itu. Tuntutan dan hujatan dapat membuatku kehilangan kepercayaan diri sehingga aku sulit menampilkan ungkapan-ungkapan Jibril Alaihissalam sepatutnya.
Apabila aku sedang sulit menangkap isyarat itu aku pun tak mempunyai keberanian menyuarakannya karena aku takut dari keterbatasanku itu akan mencemari kebesaran dan kemuliaan nama Jibril. Alangkah besarnya kesalahanku kalau aku sampai salah dalam menyampaikan pesan-pesannya. Keadaan itulah yang menyebabkan aku ingin menampakkan diriku sebagai orang yang awam tetapi telah membawa nama agung.
Aku tak dimungkinkan boleh memilih-milih keadaan. Namun bolehkah kiranya aku ini lebih dulu dipertemukan kepada pihak-pihak yang ingin bertanya kepadanya dan yang lebih memahami keterbatasanku ini dan yang mau membantu meluruskan pengetahuanku?
Sesungguhnya aku sangat takut kepada pihak-pihak yang tinggi ilmunya sehingga ketidakmampuanku ini dapat membuat aku terjatuh dan membuat aib nama Jibril Alaihissalam.
Ya Allah, Yang Maha Menyantuni ilmu, Engkau-lah yang mengetahui keterbatasan hamba. Berilah hamba kesempatan terlebih dahulu dipertemukan dengan orang-orang yang akan membagikan ilmunya kepada hamba, bukan orang yang ingin mengujikan ilmu hamba.
Ya Allah, tolonglah hamba meniti Takdir-Mu yang sungguh sangat besar ini. Tolonglah hamba memahami ilmu-ilmu-Mu, sebelum dan sesudahnya, dari apa-apa yang Engkau perkenankan kepada hamba saat ini.
Ya Allah, beritahukan kepada kami semua bahwa Takdir-Mu ini tak Engkau batasi liputan kemampuannya di antara kemampuan hamba yang sangat terbatas ini. Sambungkanlah hamba kepada segala penjelasan-penjelasan-Mu seiring dengan kemampuan Malaikat Jibril Alaihissalam. Curahkanlah kemakrifatan ilmu-Mu ya Allah, dan beritahukanlah kepada kami sehingga dengannya umat manusia itu tak menilainya dengan sempit, dan karenanya tak mengindahkan Takdir-Mu ini. Ya Allah, bebaskanlah hamba dari kebodohan dan dari apa-apa yang membatasi pikiran
dan daya nalar hamba. Sungguh hamba ingin menjalankan amanah-amanah-Mu dengan baik dan jauh dari kesalahan. Genapkanlah segala daya kemampuan hamba membawa Takdir-Mu ini.
Ya Allah kabulkanlah doa hamba ini. Amin ya Rabbal Alamin.

"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link: